Ugh!

Kau pernah menjentikkan jari
Sambil berkata: Hupla!
Sedetik kemudian matamu mulai tertawa
dan bercerita

Memamerkan segala yang tertata
di buku usang

Ini berat, Tuan!
Dadamu tak lagi lapang
Bahuku tak lagi selesa
Kita sudah tak bisa berbagi
Apa-apa

Sebab waktu tak akan pernah bisa
Kembali

Pangkalpinang, 21072017

#kelaspuisi 
#KPSWP3 
#KPSumatera 
#apologize

Sepakat

Sepakat
Begini saja
Seperti yang sudah-sudah
Aku melanjutkan perjalanan
sambil mengikis habis
kau;

seluruh peluh bibirmu di lubang pori-poriku
dan segala lenguh-desah
yang termaktub pada
ingatan-ingatan basah

Sementara kau
akan membuta-menuli-membisu
Melupakan aroma dan pelukanku
di tiap liuk gerakmu

Lalu
Kita akan sepakat
Untuk tetap begini saja
Seperti yang sudah-sudah

aku terus berlari
dan kau pura-pura lupa telah
mengaitkan jari

Pangkalpinang, 18062017

Gadis Petrichor

: Dina Anggraini

Matanya tertinggal di halte depan kampus
Di antara kerumunan orang yang hendak pergi atau pulang
Sementara kepalanya menggelinding menelusur jalan raya,
Lalu berhenti di ujung pemakaman

Tak henti ia memainkan nisan
“Apa yang hendak kau kubur, nona?”

Petrichor mengudara
Air mata ruam langit lesap di kulitnya
Hujan yang kuyup tak membuat gigil ingatan

Istirahatlah, nona
Malam sudah lelah.

Pkp, 30 Maret 2017

@kelaspuisi #KPSWP2 #puisiberantai #kelaspuisi

Sumber gambar: https://ninchi85.wordpress.com/2013/10/21/hujan-gugur/

Pesan Emak untuk si Anak Petani

Nak…
Lihatlah
Ini tanah kita
Sepetak kecil di ujung Kendeng, peninggalan bapakmu
Kenanglah dengan baik, sebab nanti akan jadi milikmu
Dan kau harus tau dengan benar, jangan sampai tertukar

Nak…
Bapakmu pernah berpesan
Bila suatu hari nanti emak lupa diri
Cepat-cepatlah kau ambil cangkul dan gali tanah ini dalam-dalam
Tanam dengan apa saja yang kelak bisa kau panen dan kau makan
Sebab kita adalah petani
Makan dari hasil ladang dan sawah sendiri

Nak…
Ingatlah
Jangan lelah tersenyum dan tertawa
Jaga bahumu agar tetap tegak jumawa
Biar tak gampang goyah
Bila sewaktu-waktu kita nyaris rebah

Emak pamit dulu buat mengecor kaki
Supaya kita tetap bisa makan nasi
Agar kita kelak tak minum air kencing sendiri

Pangkalpinang, 25032017

Sumber gambar: http://m.kbr.id/berita/03-2017/dokter_sarankan_stop__petani_kendeng_bersikeras_lanjutkan_semen_kaki_di_depan_istana/89303.html

FF Kamis-Masih

“Jadi, ini tempatnya?”

“Iya.”

Aku masih bergeming. Terlalu nyaman di sini. Menikmati ombak sambil mengingat semuanya. Setahun yang lalu aku ada di tempat ini juga. Di antara batuan karang yang cadas.

“Katanya, dia ditemukan mati karena over dosis?”

“Dari berita yang kudengar, sih, begitu.”

“Oh, ya ampun. Kita pergi saja dari sini.”

Pasangan yang baru tiba itu pergi lagi.

“Kamu begitu terkenal sekarang. Apa kau bahagia?”

Setahun yang lalu dia meninggalkanku. Padahal aku hanya punya dia. Seperti yang lain, dia memilih untuk mati. Aku memang tak diinginkan siapapun.

Aku menghela napas. “Bahkan, tak ada yang tau jasadku masih terjepit karang,”

 

 

Pangkalpinang, 14 April 2016

Ps: Sesungguhnya cerita ini gak jelas banget. Huft…

#Prompt 111-Be Aware!

Aku berjalan mengendap-endap. Dapur masih gelap. Sepertinya ibu belum bangun. Sambil menenteng sepatu aku menaiki tangga menuju kamar. Aneh. Pintu kamarku setengah terbuka. Padahal seingatku tadi kutinggalkan dalam keadaan tertutup. Dan terkunci. Kurogoh kantong celanaku. Kuncinya masih ada di situ. Itu artinya aku benar-benar mengunci pintu sebelum meninggalkan kamar malam tadi.

Sambil berjingkat aku mengintip ke dalam kamar. Ada ibu. Aku menahan napas. Ibu? Tidurkah? Di kamarku? Mengapa ibu tidur di kamarku? Hey, tunggu. Apa itu yang keluar dari telinga ibu?

“Be Aware!”

Sebuah suara tiba-tiba terngiang di kepalaku. Ah, sial! Aku bergegas mengintip ke lubang kecil di sebelah pintu. Kosong.

“Berhenti menggangguku, atau kau akan menyesal!”

“Benarkah? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?”

“Jangan menantangku, Aro. Kau tau apa yang bisa kulakukan!”

“Ya ya ya… Kurasa. Tapi kau tak akan melakukannya.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja!”

 Aku mengintip lagi ke dalam kamar. Ibu sudah tidak ada di tempat tidur. Kemana dia?

 “Apa yang kau lakukan di situ?”

Aku terperanjat. Ibu sudah berdiri di belakangku. Mengapa aku tidak melihat ibu keluar kamar?

 “Tidak ada, Bu.”

 “Dan kau baru pulang sekarang? Aro, kau sama sekali tidak pernah berubah.”

Aro? Ibu tidak pernah memanggilku Aro. Inung Inung dan Inung. Dan sekarang dia memanggilku Aro? Ya Tuhan! Sepertinya tadi aku memang tidak salah lihat.

“Ada apa? Mengapa wajahmu tegang begitu?” Ibu tersenyum. Menyeringai tepatnya.

Aku tercekat. Mungkin sekarang wajahku sudah mulai memucat.

Ibu terkekeh. “Sepertinya kau mulai menyadari sesuatu, Aro.”

Sial. Semut kecil itu benar-benar memprogram otak ibu!

Pangkalpinang, 14 April 2015

Untuk diikutsertakan dalam Prompt di Monday Flashfiction

NAIF

“Tidak semua hal bisa disederhanakan dengan kata maaf, Aria.”

 Aku mendengus. “Apa pedulimu?”

 Dia tertawa. Mengejek. “Memangnya apa yang sedang kau lakukan sekarang? Memandangi semua barang-barang yang masih kau biarkan tergeletak di tempatnya sambil mengingat-ingat apa yang sudah kalian lewati?”

 “Oh, sudahlah. Jangan pedulikan aku.”

 “Kau terlalu naif. Mengapa tidak kau singkirkan saja semuanya?”

 “Ini terlalu menyakitkan. Harusnya kau tau itu. Aku hanya tidak bisa menerima bahwa dia tidak memilihku.”

 “Sakit kau bilang? Cih!” dia tertawa. “Kau yang memilih rasa sakit itu. Kau sudah tau sejak awal lalu memilih untuk pura-pura tidak tau. Dan sekarang kau bilang sakit?”

 Sial! Lagi-lagi dia mengejekku. Dan yang lebih menyebalkan ialah kenyataan bahwa semua yang dikatakannya adalah benar!

 “Kenapa diam?”

 “Aku hanya sedang berpikir.”

 “Sambil memandangi boneka itu?”

 Aku tertegun. Entah sejak kapan boneka ini ada di tanganku. Rindu sepertinya sedang mengikis rasa sakit yang menghunjam sejak lama. Lalu aku mendengar dia terkekeh.

 “Tidak bisakah kau membiarkan aku dulu? Dan berhentilah tertawa seperti itu. Sungguh menjengkelkan!”

TING!

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Dari kamu.

 “Jangan bodoh,” katanya. “Kau sudah memberinya waktu terlalu lama.”

 “Tidak semua hal bisa disederhanakan dengan kata maaf.” Ulangnya.

 “Oh, ya ampun. Diamlah! Jangan berisik. Ini masih pagi. Atau keluar dari kepalaku dan cari tempat baru!”

Pangkalpinang, 8 April 2016