FF Kamis-Masih

“Jadi, ini tempatnya?”

“Iya.”

Aku masih bergeming. Terlalu nyaman di sini. Menikmati ombak sambil mengingat semuanya. Setahun yang lalu aku ada di tempat ini juga. Di antara batuan karang yang cadas.

“Katanya, dia ditemukan mati karena over dosis?”

“Dari berita yang kudengar, sih, begitu.”

“Oh, ya ampun. Kita pergi saja dari sini.”

Pasangan yang baru tiba itu pergi lagi.

“Kamu begitu terkenal sekarang. Apa kau bahagia?”

Setahun yang lalu dia meninggalkanku. Padahal aku hanya punya dia. Seperti yang lain, dia memilih untuk mati. Aku memang tak diinginkan siapapun.

Aku menghela napas. “Bahkan, tak ada yang tau jasadku masih terjepit karang,”

 

 

Pangkalpinang, 14 April 2016

Ps: Sesungguhnya cerita ini gak jelas banget. Huft…

#Prompt 111-Be Aware!

Aku berjalan mengendap-endap. Dapur masih gelap. Sepertinya ibu belum bangun. Sambil menenteng sepatu aku menaiki tangga menuju kamar. Aneh. Pintu kamarku setengah terbuka. Padahal seingatku tadi kutinggalkan dalam keadaan tertutup. Dan terkunci. Kurogoh kantong celanaku. Kuncinya masih ada di situ. Itu artinya aku benar-benar mengunci pintu sebelum meninggalkan kamar malam tadi.

Sambil berjingkat aku mengintip ke dalam kamar. Ada ibu. Aku menahan napas. Ibu? Tidurkah? Di kamarku? Mengapa ibu tidur di kamarku? Hey, tunggu. Apa itu yang keluar dari telinga ibu?

“Be Aware!”

Sebuah suara tiba-tiba terngiang di kepalaku. Ah, sial! Aku bergegas mengintip ke lubang kecil di sebelah pintu. Kosong.

“Berhenti menggangguku, atau kau akan menyesal!”

“Benarkah? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?”

“Jangan menantangku, Aro. Kau tau apa yang bisa kulakukan!”

“Ya ya ya… Kurasa. Tapi kau tak akan melakukannya.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja!”

 Aku mengintip lagi ke dalam kamar. Ibu sudah tidak ada di tempat tidur. Kemana dia?

 “Apa yang kau lakukan di situ?”

Aku terperanjat. Ibu sudah berdiri di belakangku. Mengapa aku tidak melihat ibu keluar kamar?

 “Tidak ada, Bu.”

 “Dan kau baru pulang sekarang? Aro, kau sama sekali tidak pernah berubah.”

Aro? Ibu tidak pernah memanggilku Aro. Inung Inung dan Inung. Dan sekarang dia memanggilku Aro? Ya Tuhan! Sepertinya tadi aku memang tidak salah lihat.

“Ada apa? Mengapa wajahmu tegang begitu?” Ibu tersenyum. Menyeringai tepatnya.

Aku tercekat. Mungkin sekarang wajahku sudah mulai memucat.

Ibu terkekeh. “Sepertinya kau mulai menyadari sesuatu, Aro.”

Sial. Semut kecil itu benar-benar memprogram otak ibu!

Pangkalpinang, 14 April 2015

Untuk diikutsertakan dalam Prompt di Monday Flashfiction

NAIF

“Tidak semua hal bisa disederhanakan dengan kata maaf, Aria.”

 Aku mendengus. “Apa pedulimu?”

 Dia tertawa. Mengejek. “Memangnya apa yang sedang kau lakukan sekarang? Memandangi semua barang-barang yang masih kau biarkan tergeletak di tempatnya sambil mengingat-ingat apa yang sudah kalian lewati?”

 “Oh, sudahlah. Jangan pedulikan aku.”

 “Kau terlalu naif. Mengapa tidak kau singkirkan saja semuanya?”

 “Ini terlalu menyakitkan. Harusnya kau tau itu. Aku hanya tidak bisa menerima bahwa dia tidak memilihku.”

 “Sakit kau bilang? Cih!” dia tertawa. “Kau yang memilih rasa sakit itu. Kau sudah tau sejak awal lalu memilih untuk pura-pura tidak tau. Dan sekarang kau bilang sakit?”

 Sial! Lagi-lagi dia mengejekku. Dan yang lebih menyebalkan ialah kenyataan bahwa semua yang dikatakannya adalah benar!

 “Kenapa diam?”

 “Aku hanya sedang berpikir.”

 “Sambil memandangi boneka itu?”

 Aku tertegun. Entah sejak kapan boneka ini ada di tanganku. Rindu sepertinya sedang mengikis rasa sakit yang menghunjam sejak lama. Lalu aku mendengar dia terkekeh.

 “Tidak bisakah kau membiarkan aku dulu? Dan berhentilah tertawa seperti itu. Sungguh menjengkelkan!”

TING!

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Dari kamu.

 “Jangan bodoh,” katanya. “Kau sudah memberinya waktu terlalu lama.”

 “Tidak semua hal bisa disederhanakan dengan kata maaf.” Ulangnya.

 “Oh, ya ampun. Diamlah! Jangan berisik. Ini masih pagi. Atau keluar dari kepalaku dan cari tempat baru!”

Pangkalpinang, 8 April 2016

Bila Suatu Hari Nanti Tak Kau Temukan Aku Di Manapun

Cobalah kau lihat di bawah laci mejamu, mungkin ada debu yang menggumpal sebab lupa kau bersihkan dan aku terselip di dalamnya; sedang menggeliat atau meringkuk bersama kenangan yang kau lemparkan.

Atau kau bisa melihat langit-langit kamarmu, sebab kadang aku suka berkeliaran di sana sambil mempermainkan bunga warna warni yang selalu kau siram dengan mengabaikan bayangan yang lalu lalang.

Bila tak juga ada aku, kau boleh menoleh sejenak pada ujung tempat tidurmu, tempat biasa kau meletakkan ponsel kesayanganmu ketika malam lelah dan rebah. Aku sering berdentang denting di sana sambil mendengarkan celotehmu yang ceria yang tak jarang menoreh hatiku pelan-pelan.

Masihkah tak ada aku di situ?

Cobalah kau jenguk sejenak pakaian kotor yang bertebaran di dinding dan lantai kamarmu. Masihkah ada aromaku menguar di sana setelah berkali kita menyatukan hati lalu melebur tanpa janji hingga saling mengingkari setelahnya? Lihatlah sebentar, apakah jariku masih tertinggal di balik kerah bajumu?

Atau ulurkan tanganmu ke dalam kepalamu. Mungkin di sudut-sudut tergelap aku sedang terlelap. Memimpikan sebuah pelangi melengkung sempurna setelah badai menggelegar.

Bila masih juga tak ada aku, lihatlah ke beranda. Karena kadang tak sengaja aku terlempar keluar dan teronggok di semak atau selokan. Sebentar meleleh sebentar membeku.

Namun bila masih tak ada aku di manapun, maka diam dan duduk saja di dekat meja kecil sudut kamarmu. Lalu buka buku dan belajarlah menghapus aku satu satu. Sebab, menunggu tak sebercanda itu.

Pangkalpinang, 28 Maret 2016

Sebab Tak Semua Kebaikanmu Akan Diterima Dengan Baik. Jadi Bersabarlah.

Pernah, seorang wanita menghampirimu sambil berteriak marah tanpa jeda.
Dia menunjukmu dengan mata nyalang yang menyala.
Padahal kau hanya mendengarkan segala keluh kesah kekasihnya yang sudah lama menjadi sahabatmu tanpa berkomentar apa-apa.

Lalu, seorang ibu menghubungimu dengan tanduk di kepala.
Segala tudingan dan ancaman dia lemparkan hingga wajahmu menghilang entah ke mana.
Jutaan aksara yang berhamburan dari matamu hancur bahkan sebelum sampai di ujung telunjuknya.
Sedangkan kau hanya membantu anaknya yang sudah lama menjadi saudaramu memperbaiki benang kusut di kepalanya tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.

Ada pula seorang bocah jelita yang menangkapmu dengan sengaja dan tak berniat melepaskan.
Dia menguliti seluruhmu dengan pandangannya.
Memenjarakanmu pada sebuah kotak hitam di ujung ingatannya.
“Jangan rebut bapakku!” tegas matanya berbicara.
Walau kenyataannya kau hanya bertukar cerita pada lelaki yang sudah lama menjadi temanmu dan kerap bertukar isi kepala tanpa ada perasaan apa-apa.

Jangan berhenti tersenyum meski kadang banyak mata yang merasa berkuasa dan berhak menghakimimu.
Sebab tak semua kebaikanmu akan diterima dengan baik.
Jadi Bersabarlah.

Karena yang ingin dan sedang memelukmu juga tidak sedikit.

Sungailiat, 19 November 2015

Bodoh atau Tak Pernah Pintar? Sudah Berpikir?

Lihatlah kawan,
Kantong-kantong yang tak pernah menebal kini semakin keroncongan saja.
Keringat yang tak sempat mengering jadi semakin asin.
Dan kita membiarkan mulut dan kepala mengeluh seenaknya?
Apakah kita memang sebodoh itu,
atau kita sebenarnya tak pernah pintar?

Mereka yang duduk di kursi-kursi kebangsaan mulai tertawa.
Memamerkan cengiran dan ocehan khas yang menjengkelkan,
melepaskan aksara dan menebarkannya di angkasa.
Tak sadarkah sekeliling kita sudah mulai menuding?
Menganggap kita tak mampu dan hanya memamerkan taring serigala yang sudah lama ompong?
Apakah kita mau terus diremehkan,
atau memang kita tak pantas dibanggakan?

Menggonggong atau mencakar sudah tak berguna lagi, kawan.
Berceloteh tanpa bukti hanya akan membuat ayam terpingkal.

Pangkalpinang, 23 Oktober 2015