Untuk Kehilangan yang Terlalu Cepat Datang

Hai.

Rasanya cukup itu saja salam pembuka yang bisa kukatakan kepadamu, sang Kehilangan yang Terlalu Cepat Datang. Bisakah kumulai saja percakapan sepihak ini tanpa banyak basa basi? Aku takut hujan turun, dan aku tenggelam sebelum sempat kukatakan semuanya padamu.

Baiklah, Tuan. Bisakah kusebut begitu? Karena namamu terlalu panjang rasanya. Aku ingin menanyakan sesuatu. Atau menyatakan sesuatu. Keduanya. Semuanya.

Begini, Tuan.
Ketika kau datang, rasanya ada yang menghunjam jantungku. Dadaku tiba-tiba berat dan sesak. Bunga mawar warna-warni yang kutanam tiba-tiba menghitam. Tak ada lagi pelangi yang membias di langitku. Semuanya menjadi muram. Lalu badai datang, membuatku takut dan memilih menepi. Sebenarnya, apa yang terjadi? Aku benar-benar tak mengerti.

Sebelumnya, semua baik-baik saja. Aku masih sering tertawa bersama dengan jemari yang sedang kugenggam. Dia memberiku banyak sekali kebahagiaan. Aku suka sekali mendengar suaranya. Tawanya begitu renyah, menggelitik hariku untuk turut tertawa. Pelukannya benar-benar hangat. Memberiku ketenangan. Oh, ya. Dia juga pintar berciuman. Maaf, Tuan. Aku hanya terlalu senang ada di dekatnya. Mendengarnya bercerita tentang apa saja, walau menyebalkan ketika dia mulai bertanya tentang apa saja. Tetapi kami bahagia. Setidaknya kukira kami bahagia.

Aku senang ada di dekatnya. Berlama-lama ada di pelukannya yang hangat, nyaman, dan menenangkan. Sungguh, Tuan. Dia bukan pria tampan dengan pakaian bak pangeran yang sedang menunggang kuda putih seperti yang ada di negeri dongeng. Bukan pula pemuda ganteng seperti artis Korea atau pemain sinetron Indonesia. Dia hanyalah laki-laki biasa yang senang memakai kemeja yang akan menenggelamkan matanya ketika sedang tertawa. Dia pria pemarah yang ramah. Dia hangat, dan nyaman. Dia istimewa.

Tetapi, Tuan, tiba-tiba kau muncul sambil tersenyum jumawa. Aku yang sedang berayun di awan terhempas seketika. Lalu dia mulai membias perlahan. Melepaskan genggaman meninggalkan kenangan. Sakitnya tak bisa terlukiskan, bahkan tak ada yang mengalir dari kelenjar yang mendiami mataku. Aku hanya tersenyum, terdiam, terpaku, tanpa pernah sempat menolak atau berontak. Setelah itu aku jatuh ke jurang tak berdasar, tanpa sempat bersandar.

Di tengah kehilangan, dia masih sempat menyeretku ke tengah lapangan. Turut memperbaiki atap rumahnya yang nyaris runtuh, tanpa tahu betapa langitku sudah lama rubuh. Dan aku hanya bisa mengangguk sambil menahan sesak yang menyeruak. Tapi sesungguhnya dia nakal, Tuan. Tak peka bila aku tak ingin melepaskan. Kadang dia muncul di tengah malam, mengajakku bercanda dan bercengkerama. Namun tak jarang dia menghilang, mengabaikan segala rindu yang menggerumun di kepalaku.

Lalu, apa yang harus kulakukan? Bisakah kau katakan apa yang sebaiknya kusiapkan agar halamanku kembali berwarna? Haruskah aku tetap menggenggamnya agar tak beranjak meski semuanya tidak akan lagi sama? Ataukah harus kubiarkan saja dia melenggang pergi meski aku harus hancur sendiri?

Katakan, Tuan. Jawab pertanyaanku
Sebab aku bertanya padamu.
Dan kau harus menjawabku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s