LANGIT

Gambarsumber gambar

Bagi Shinta Langit Pandora, semua laki-laki adalah makhluk kejam yang tak pantas diberi hati. Mereka hanyalah manusia yang selalu ingin menang sendiri dan tidak bertanggungjawab. Seperti Ayahnya. Dia tidak akan menambatkan hatinya pada laki-laki manapun, karena pada akhirnya mereka akan meninggalkannya. Sendirian. Termasuk Bumi.

Gadis cantik berambut pendek dengan mata gelap ini lebih suka dipanggil Langit tinimbang Shinta. Baginya, Langit adalah nama yang lebih mencerminkan tentang dirinya, meski terdengar maskulin untuk sosok perempuannya. Langit sangat tinggi dan sulit direngkuh. Menyimpan banyak keindahan dan kemuraman. Menumpahkan kebahagiaan dan kesedihan di waktu yang kadang sama sekali tak bisa ditebak. Langit menutupi mata telanjang manusia dari hiruk pikuk angkasa dan lintasan orbit yang berputar dan beterbangan di atas sana. Langit seperti dirinya.

Dia merasa tak pantas menyandang nama Shinta. Shinta ialah nama seorang dewi dalam wiracarita Ramayana, istri dari seorang Sri Rama. Menurut pandangan Hindu, Shinta merupakan reinkarnasi dari Laksmi, dewi keberuntungan, istri Dewa Wisnu. Dan Langit merasa sangat tidak pantas bila Shinta disematkan ke dalam namanya.

**********

Bhimantara Bumi Bramantyo. Mahasiswa tingkat akhir yang selalu ada di sekitar Langit. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Bumi sudah menjadi bagian dari lingkaran hidup yang dilalui oleh Langit. Dia selalu ada ketika Langit membutuhkan bahu untuk bersandar, meskipun tak pernah ada nirkata yang berlompatan di sela air mata yang menyungai. Bumi tak pernah bertanya. Dia hanya akan memeluk gadis itu sambil menepuk punggungnya, lalu termangu setelah sungai mengering dan Langit berlalu dengan meninggalkan senyuman.

Bumi mencintai Langit. Entah bagaimana dengan Langit. Bumi tak pernah tahu.

**********

Langit menangkap gelisah di mata Bumi, pria yang telah mengganggu detak jantungnya sejak lama. Entah bagaimana awal pertemuan mereka, Langit tak pernah ingat. Tetapi laki-laki itu selalu ada di sekitarnya. Selalu sedia menampung tumpahan resah yang membanjir dari kelenjar air mata tanpa pernah bertanya apa dan kenapa. Pelukannya nyaman dan menenangkan. Dan Langit menyukainya. Meskipun dia tak pernah ingin terikat dengan pria manapun di dunia ini, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Langit menginginkan Bumi.

“Kamu kenapa, Bum? Ada yang tak nyaman? Sepertinya kamu gelisah sekali hari ini.”

Bumi menggeser tempat duduknya dan menghabiskan air minum yang disodorkan Lintang. “Minggu depan aku pulang ke Maluku.”

Untuk sesaat, jantung Langit seakan berhenti berdetak. “Kenapa mendadak begitu?” Suaranya sedikit bergetar, tapi Langit berusaha untuk tetap terlihat tenang dan wajar.

“Ayahku sakit,” Bumi mengusap wajahnya, “ada infeksi di lambungnya. Kata dokter lumayan parah dan ayah harus istirahat total. Aku harus membantu ibu mengurus ladang dan ternak.”

“Kakak dan Adikmu bagaimana?”

“Aku anak tunggal, Langit…”

Langit bungkam. Ternyata banyak sekali yang tak diketahuinya. Tentang Bumi yang ternyata anak seorang petani, Bumi yang anak tunggal, Bumi yang berasal dari Maluku, Bumi yang… Ah! Langit tak pernah bertanya. Ingin, tapi tak pernahterealisasi. Rasa bersalah langsung menyelimutinya.

“Semoga Ayahmu cepat membaik ya, Bum.” Langit merangkul bahu Bumi, “dan semoga kamu bisa cepat kembali,” kali ini suara hatinya yang bergumam.

**********

Bumi memandangi surat-surat yang berserakan di kamar bernuansa biru dan putih itu. Di atas tempat tidur, Langit sedang terlelap. Lelah setelah menangis seharian. Bumi membuka dan membaca beberapa surat secara acak.

 10 Juli 2010

Hari ini aku berusia 17 tahun. Apa kau tahu itu? Mungkin kau tak tahu. Atau tak mau tahu. Entahlah, aku sendiri tak peduli. Apa peduliku pada orang yang telah meninggalkan ibu dan aku yang bahkan belum dilahirkan?Atau, kau justru tak tahu kalau aku ada? Jangankan nama, wajahmu pun aku tak pernah ingin tahu. Sesungguhnya aku tak pernah berharap untuk dilahirkan hanya untuk ditinggal dan disia-siakan, tapi melihat senyuman di wajah ibu, aku merasa menjadi anak yang paling bodoh bila berpikiran seperti itu. Aku masih memiliki ibu. Dan kami tak membutuhkanmu.

27 Januari 2012

Aku melihatnya. Entah sejak kapan, tapi dia selalu ada di sekitarku. Matanya menangkap mataku, lalu aku membuang wajahku yang mungkin sudah semerah lipstik ibu. Jantungku serasa berlompatan, hendak menghambur ke jantungnya. Siapa dia? Mengapa selalu ada saat aku sedang rapuh dan meneteskan air mata?

19 Februari 2013

Namanya Bumi. Bhimantara Bumi Bramantyo. Aku ingin terperangkap dalam tatap matanya. Tenang dan menenangkan. Aku suka pelukannya saat berusaha meredakan badai di dadaku. Tapi dia laki-laki. Sama sepertimu. Dan dia akan meninggalkanku. Aku tahu itu.

22 Januari 2014

Dia akan meninggalkanku. Sepertimu. Semua laki-laki memang tercipta untuk meninggalkanku. Seharusnya aku tak pernah melukis wajah Bumi dan menggantungnya ke langit-langit mimpi. Seharusnya aku tak meletakkan senja atau purnama. Seharusnya aku tak berharap apa-apa.

Bumi termenung. Ditatapnya Langit yang tampak tertidur pulas. Dielusnya rambut gadis itu, lalu sebuah kecupan didaratkan di keningnya. “Andai boleh, sudah lama aku ingin menggenggam hatimu, Langit.” bisiknya pelan.

Bumi beranjak. Kakinya melangkah gontai menjauhi kamar. Dia tak tahu, ada yang mengalir lagi dari sudut mata gadis yang baru saja dikecupnya.

**********

“Kamu jangan membenci Ayahmu lagi, Langit. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu ada di sekitar kita. Percayalah.”

“Itu yang selalu Ibu katakan. Aku bosan, Bu! Kalau memang dia tak pernah meninggalkan kita, mengapa aku tak pernah melihatnya sejak kecil? Bahkan untuk sedetik!”

“Karena kau tak pernah mau mendengar cerita Ibu, sayang.” Perempuan paruh baya yang masih menyisakan kecantikan saat muda itu menghampiri Langit dan merangkulnya penuh kasih sayang. “Sekarang duduk dan diamlah. Dengarkan cerita ibu kali ini, lalu serahkan pada hatimu bagaimana nanti.”

“Dulu, Ayah dan Ibu menikah di catatan sipil. Waktu itu kami masih seumuran kamu. Ibu sangat mencintai Ayahmu, begitu juga sebaliknya. Dia sangat mencintai Ibu.” Mata ibu Langit menerawang. Ada senyum di sudut bibirnya. “Saat itu, kami merasa bahwa cinta adalah segalanya. Mata dan telinga kami tutup rapat-rapat, termasuk tentangan dari keluarga. Apa kau tahu, Langit? Kakek dan Nenek sesungguhnya sangat menyukai Ayahmu. Tapi sesuatu yang tak bisa disatukan tidak bisa dipaksakan. Apapun alasannya.”

“Aku tak mengerti maksudnya,”

“Ibu belum selesai, Nak.” Ibu Langit menarik napas dan menghembuskannya dengan kuat. Ada jeda sejenak. Langit memilih bungkam.

“Setelah menikah, Ayah dan Ibu mulai belajar untuk mandiri. Awalnya semua baik-baik saja. Kami bahagia dengan pernikahan kami. Setelah satu tahun menikah dan belum memiliki anak, kami memutuskan untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Setiap hari kami belajar, beribadah, dan berdoa. Memohon agar diberikan pelengkap kebahagiaan. Tetapi semakin kami dekat dengan Tuhan, kami menyadari satu hal.” Ibu menutup matanya sebentar, lalu menatap wajah anak gadisnya sambil tersenyum. “Kakek dan Nenek benar. Di dalam kitab suci Ayahmu, ataupun kitab suci Ibu, tak ada yang mengizinkan kami untuk bersatu.”

“Setelah itu kami memutuskan untuk berpisah. Baik-baik. Ayahmu tak pernah meninggalkan Ibu, sayang. Tidak pernah.”

“Lalu, di mana dia sekarang? Mengapa dia tidak pernah menjenguk kita?”

“Setelah sepakat berpisah, Ayah dan Ibu kembali ke rumah orang tua masing-masing. Tapi ternyata Ayahmu tak pernah sampai ke rumah. Dia ditemukan mengapung di sungai tak jauh dari kampungnya. Ada yang melihat kalau Ayahmu sedang menolong kucing yang terjatuh, lalu dia terpeleset. Ayahmu tak bisa berenang.” Ibu mengusap air mata yang mulai mengalir. “Bahkan Ayahmu tak tahu ada kamu di dalam rahim Ibu. Jadi, jangan pernah membencinya lagi.” Bisik ibu sambil memeluk dan mengecup kening Langit. Lalu dia beranjak dan meninggalkan gadis itu terisak.

Langit bergeming. Air mata menderas di pipinya. “Maafkan aku, Ayah..” gumamnya dengan suara parau, “maafkan aku.”

**********

Bumi menggenggam jemari Langit. Dua pasang mata tak ingin saling melepaskan. Tapi Langit menyerah. Dipalingkannya pandangan ke arah tumpukan penumpang di pintu keberangkatan.

“Jadi, apa kau sudah mantap dengan rencanamu?”

“Iya. Aku akan melanjutkan kuliahku di Maluku. Setelah itu aku akan menuruti permintaan Ayah untuk menuntut ilmu di pesantren milik Abah.”

“Kamu benar-benar anak berbakti, Bumi.” Langit mencoba untuk tersenyum, meski terlihat hambar.

“Aku akan merindukanmu, Langit. Pasti. Aku bahagia pernah mengenalmu…” Ditariknya tubuh gadis itu dalam dekapannya.

Susah payah Langit mengukir senyuman di bibir. “Aku juga, Bum.” bisik Langit di telinga Bumi.

Lambaian tangan Bumi menghilang di balik pintu kedatangan. Langkah kaki Langit gontai menuju terminal bus DAMRI. “Bunda Maria, kuatkan hatiku.” ujarnya berulangkali.

***** END *****

CERPEN INI DIBUAT BERSAMA INEL NELIS

DIIKUTSERTAKAN DALAM PROJECT MENULIS “LOVE NEVER FAILS” DARI NULIS BUKU

DIBUKUKAN DALAM BUKU KETIGA LOVE NEVER FAILS KOLABORASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s