[FF Cinta Pertama] MALAM KETIKA POHON BESAR DI KAMPUNGKU DITEBANG

pohon besar

sumber gambar

Penduduk sudah berkumpul di bawah pohon besar itu. Pak RT tampak sedang memberikan pengarahan kepada beberapa orang yang memegang parang dan kapak. Sementara Mbah Silok, dukun kampung yang lebih terlihat seperti seorang pejabat karena suka berpakaian necis itu terlihat komat-kamit sambil membakar entah apa sambil menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah.

Aku memperhatikan dari kejauhan sambil menggendong Siti, anakku yang baru berumur 4 tahun. Sambil duduk di bale-bale rumah Bu Atik, si penjual pecel, aku menyanyikan lagu nina bobo, berharap agar Siti lekas tertidur. Malam ini dia jadi begitu rewel.

Tak lama kemudian, Mbah Silok menyuruh para penduduk untuk mundur menjauhi pohon. Sementara mereka yang memegang parang dan kapak disuruh untuk mendekatinya. Sepertinya mereka sedang dimantrai. Bibir Mbah Silok terus bergerak sambil menyemburkan air dari botol bulat yang dipegangnya. Suara mulai riuh. Sebagian orang mengobrol sambil menunjuk-nunjuk pohon besar, sebagian lagi memandangi ritual yang dilakukan sang dukun dengan takjub. Pak RT tampak mondar mandir dengan gelisah. Sesekali memandangi jam tangan, lalu menatap langit.

Katanya, pohon besar itu keramat. Ada hantu penunggunya. Kadang terdengar suara anak kecil yang sedang menangis atau tertawa. Kadang ada suara wanita yang sedang menyanyi. Itu berita yang kudengar. Aku sendiri belum pernah mendengarnya. Tetapi, yang kutahu, itupun dari berita yang kudengar, belum ada orang yang pernah bertemu, melihat, atau diganggu oleh hantu penunggu itu.

Dan malam ini, pohon itu akan ditebang.

Tempat berdirinya pohon besar itu hendak dibangun sebuah supermarket. Seorang pengusaha dari kota akan membuka usaha di kampung kami dan dia membeli tanah yang ada pohon besar itu. Tentu saja pohon itu harus dirobohkan terlebih dahulu. Pak RT menyanggupi untuk menebangnya, dengan bantuan Mbah Silok. Untuk jaga-jaga, katanya, agar tidak terjadi apa-apa.

Ritual sembur-menyembur telah selesai. Kulihat parang dan kapak mulai diayunkan. Suara penduduk semakin riuh. Aku berdiri. Kugendong Siti di punggung. Kudekati kerumunan itu, hendak melihat proses penebangan dari dekat.

Beberapa orang sedang bertengger di atas pohon, menebang dahan-dahan yang membentang bak tangan seorang atlet angkat besi yang sedang mengangkat beban – daunan yang rimbun. Ranting, daun, dahan berjatuhan. Ibarat prajurit kalah perang, rubuh satu persatu. Tali tambang yang diikat di batang pohon sebagai proses akhir penebangan mulai ditarik oleh penduduk yang berbadan besar. Pohon besar itu mulai oleng, dan rubuh. Penduduk bersorak. Senang! Aku memandang takjub. Tak ada lagi pohon besar yang jumawa.

Kurasakan ada yang bergerak di punggungku. Siti terbangun. Kuturunkan dia menjejak tanah. Dipandanginya pohon besar yang tak lagi besar itu. Menolehku, lalu melihat lagi potongan kayu itu. Tiba-tiba saja dia menangis. Mulanya terisak, lalu berteriak nyaring. Orang-orang menoleh. Keheranan.

Lalu angin kencang tiba-tiba saja bertiup. Menerbangkan daun, ranting, sampah, dan apa saja yang ada di sekitar kami. Para penduduk berhamburan, berlarian untuk menyelamatkan diri. Angin semakin kencang. Dengan cepat, kutarik dan kugendong Siti. Sambil menyanyikan lagu nina bobo, aku berjalan tergesa ke arah potongan kayu dari pohon besar yang tadinya masih berdiri tegak. Malam ini, para penduduk kampung akan menerima karmanya karena telah merubuhkan rumah kami. Pohon besar yang pertama kali kami temui dan sangat dicintai Siti sejak kami datang ke kampung, puluhan tahun yang lalu.

**********END***********

Pangkalpinang, 20 Mei 2014

2 thoughts on “[FF Cinta Pertama] MALAM KETIKA POHON BESAR DI KAMPUNGKU DITEBANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s