Saat Malam Datang Bulan

Angin bersiul, malam menggeliat malas lalu bergegas.
Sepasang punggung saling melambaikan tangan sambil menghitung langkah kaki. Yang tercecer tak dapat lagi dipungut. Terlanjur disapu air hujan barusan.

Di ujung gang sempit seberang jalan, sebuah bibir tergeletak tanpa denyut. Ada ciuman yang digotong anjing liar yang sering mangkal di mulut gang. Sementara mata dan telinga menuli dengan sendirinya; asyik menyantap hidangan di rumah makan padang.

Lekas, lekaslah tidur, Nona!
Kadang bulan kerap menelan para gadis yang gemar memoles diri dengan lempung dan tai sapi! Jangan sampai ia menemukan dan menerkammu dengan segera!

Ah, tapi langit kadang suka menipu. Terkadang ia mematikan matahari lalu kita seolah sedang mati lampu. Setelahnya ibu akan mulai menyanyikan lagu pengantar tidur dengan merdu.
“nina bobo ohhh nina bobo… kalau tidak bobo digigit kebo….”

Pangkalpinang, 1 April 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s