Prompt #44: Tersesat

Gambar

Aku berjalan memutar. Jalan yang sama, pohon yang sama, belukar yang sama. Ah, jembatan itu lagi! Sudah ratusan kali aku berputar di tempat yang itu-itu saja. Rasanya sia-sia. Ketakutan yang menguar sudah menguap entah kemana. Yang tersisa hanyalah lelah yang teramat sangat.

Kupandangi lagi sekitarku. Sepertinya aku tersesat di dimensi yang tak kuketahui. Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada hutan belantara di belakangku, dan jembatan panjang yang membentang di hadapanku. Tanah berumput halus tanpa pepohonan yang sedang kupijak sepertinya hanya tempat yang disediakan untuk menarik napas panjang setelah lelah bermain-main dengan labirin tak terlihat di dalam hutan. Sepertinya dibuat sedemikian rupa dengan jalan masuk yang sama dengan jalan keluar. Pada akhirnya jembatan panjang yang entah di mana ujungnya inilah yang akan kau temukan.

Aku melangkahkan kakiku mendekati jembatan. Jembatan dari kayu dengan jalinan tali dan besi tua. Aku tidak takut ketinggian, tapi dasar jurang yang tak terlihat karena tertutup pepohonan dan kabut yang menutupi pandangan membuat nyaliku ciut. Aku menelan ludah berkali-kali. Satu langkah, dua langkah, ratusan langkah. Aman. Sepertinya aman. Tidak ada bunyi berderit. Tidak ada angin kencang. Tidak ada jembatan yang bergoyang.

Tapi…
Tunggu dulu!
Siapa itu?

Beberapa meter di depanku, masih di jembatan yang sama, sesosok pria yang kukenal dengan sangat baik sedang menatapku. Dia tersenyum. Dengan kemeja kotak-kotak yang kubelikan tahun lalu. Tangannya membentang, hendak merengkuhku.

Sedikit lagi. Tinggal beberapa langkah lagi dan aku akan segera tenggelam dalam pelukannya. Dia tertawa tanpa suara. Lalu kami berangkulan. Entah mengapa aku merasa rindu sekali pada sosok pria ini.

“Sudah saatnya kamu pulang, Lim.” Katanya sambil terus memelukku.

Tiba-tiba aku seperti melayang ke angkasa. Kabut dimana-mana. Tak ada hutan. Tak ada pepohonan. Tak ada jembatan.

Lalu aku mendengar suara ibu membacakan ayat suci. Aku membuka mata.

“Mas Halim sadar, Bu!”

Ah, itu suara Linda, adikku. Tak ada ayah.

 

**********END***********
Pangkalpinang, 28 Maret 2014
300 kata
Untuk diikutkan dalam Writing Prompt dari Monday FlashFiction

5 thoughts on “Prompt #44: Tersesat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s