Sarapan Terakhir

Kotak-Kata-Kita

Malam baru saja usai, sementara fajar menampilkan warna biru memar. Kita masih asyik berkelindan dengan gumpalan pekat, menutup mata dan telinga, mengindahkan riuh kokok ayam jantan di halaman belakang.

Aku menangkap sinar redup yang hampir padam di matamu. Nyala api yang membakar kepala tak jua mampu membuatnya benderang, pun sinar mentari yang menelusup dari celah tingkap.

Badai masih bergemuruh, tak hendak mereda, menelan segala ampun yang bergulir dari jendela. Menghentak segala cemas bergelayut manja. Ada yang tergores. Tajam. Dalam. Namaku seketika mati, tak berdetak lagi di jantungmu.

Di meja makan, kita duduk saling hadap. Kau mengunyah tai kuda, sementara aku menelan bubur basi. Bumi takkan pernah memiliki dua matahari, katamu. Lalu aku terbujur, terkubur.

Pangkalpinang, 5 Maret 2014

Lihat pos aslinya

2 thoughts on “Sarapan Terakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s