Keabadian (Semoga) Menjadi Nyata

Kepada pemilik rindu di kepalaku

Sampai hari ini aku masih tak tahu apa yang hendak kusampaikan untuk membalas suratmu. Mungkin kau benar, bahwa hatimu jauh lebih indah daripada surat yang kau tuliskan. Tapi ketahuilah, aku telah lama mendekap hatimu, jauh sebelum kau menyadarinya. Aku suka terjebak di dalamnya, mendengar detak jantungmu berdegup pelan hingga akhirnya terdengar namaku di antaranya.

Tenanglah, Iwanuwuwu, saat pertemuan sudah dekat. Tak lama lagi kita akan melompati waktu dan memotong jarak, melipat-lipat sepi dan menyimpannya ke dalam lemari. Biarkan rindu kita saling mengenal kembali setelah lama meraba dan merasa. Sedang hati, ia akan menemukan rumahnya kembali.

Tentang beribu warna yang tenggelam di kelopak mataku, pun melekat di punggungmu, ialah rindu yang melukis kamu aku dalam satu waktu. Mungkin tak terbaca, mungkin tak kentara, tapi perlahan-lahan ia menuliskan cerita tentang bocah-bocah yang berlarian di sekitar pekarangan rumah kita.

Syahadatmu, Iwanuwuwu, akan kusatukan dengan syahadatku. Biar ia menyatu dalam lafaz doa yang kulantunkan saat bermunajat kepada Pemilik Raga. Semoga keabadian yang tak pernah ada akan menjadi nyata.

Aku mencintaimu, selalu.
Waktu yang kau pinta kedatangannya.

Untuk diikutsertakan dalam project 30HariMenulisSuratCinta dari @PosCinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s