Mari Menyenja Bersama

Dear Iwanuwuwu,
pemilik rindu di kepalaku,

Jujur saja, aku bingung bagaimana membalas suratmu. Saat membacanya, rasanya seluruhku melumer dan meresap ke tiap aksara yang terangkai. Detak jantungku serasa menyatu dengan spasi, titik dan koma yang tertera. Aku melebur dengan nirkata yang kau buat.

Bagaimana tidak?

Kau menjalin kata sedemikian rupa. Seluruh kalimatnya membuatku melayang dan membubung tinggi ke angkasa, melintasi awan dan beterbangan dengan para dewa. Ah, berlebihan tampaknya. Tapi aku sungguh tersipu-sipu dan bahagia. Seolah aku tak akan lengkap tanpa kamu, dan kamu tak akan pernah ada tanpa aku.

Aku selalu melukis senja berwarna abu-abu di langitku, Iwanuwuwu. Ia tak pernah bisa berwarna merah, kuning, biru atau ungu, apalagi jingga. Pernah sesekali putih, sesekali hitam. Bukan karena aku bimbang, tidak sama sekali. Tapi warna yang kupunya hanya itu, sisanya terbawa dan melekat di punggungmu. Menelusup di balik senyum teduh dan tatap syahdu yang hanya milikmu. Aku juga selalu menggoreskan lengkung senyuman di bibirku, tapi mungkin terasa hambar. Tak pernah benar rasanya karena tak menguar bunga-bunga yang biasanya hadir saat kau dan aku bercengkerama.

Semoga zikir dan tasbih yang kau lantunkan kepada Sang Punya akan didengar dan diijabah oleh-Nya. Akan kutasbihkan doa-doa agar cinta kita turut menyenja dan menua bersama langkah dan rambut kita yang berubah warna hingga roh meninggalkan raga.

Peluk hangat selalu,
Dari waktu yang kau pinta kedatangannya

Ayuuwuwu

Untuk diikutsertakan dalam project 30HariMenulisSuratCinta dari @PosCinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s