Di Ujung Penantian Ajal

Peluh jatuh dari langit yang hitam memperlambat gerak.
Jalanan riuh, semua hendak bergegas. Angin meniupkan aroma tanah basah.
Sementara di ujung peta, wajah-wajah lusuh menebarkan warna sendu.

Dewasa hingga kanak-kanak mengenakan pita merah.
Ada yang hendak mereka rayakan. Kepergian kata mereka,
kadang menjadi awal ketidakcemasan.
Tangan-tangan mungil tak lagi mengindahkan balon yang beterbangan.
Kami tak ingin kehilangan pegangan, katanya.
Walau tak terlalu cepat bila ingin berbagi senyuman.

Sebuah kado besar terbuka. Berlimpah harapan terburai. Tapi adegan rebutan itu tak ada.
Gumpalan cemas menyemut di mana-mana.
Di setiap mata sepercik api tersulut gelisah.
Padahal kaki belum juga selesai dicuci.

Semula lurus kini jadi lengkung. Semula bular kini jadi oval.
Asa sudah lesap, karena khianat harap jadi lenyap.
Lengan terjulur ingin tersungkur.
Sadarlah kini; nirkata tak guna bukanlah dongeng semata.

Di bawah senjakala yang makin menua, semua rebah,
mata terkatup, ajal menjemput dengan senyuman.

Pangkalpinang – Jakarta
21 Februari 2014
Kolaborasi bersama Diki Umbara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s