Jangan Menyerah

Dear pemilik rindu di kepalaku

Hari ini aku menyambangi lagi kelinciku. Aku memanggilnya Belang. Bulunya putih dengan dengan corak kecokelatan. Ia terlihat lucu dan menggemaskan.

Beberapa hari yang lalu, Putih pasangan Belang mati karena sakit. Belang terus menciuminya hingga ia meregang nyawa. Setelah itu Belang terus mondar mandir dari dan ke tempat dia terakhir melihat Putih. Tapi pasangannya itu sudah tidak ada. Putih dikuburkan tepat di depan kandangnya.

Kemarin, aku membelikan dia pasangan baru. Dengan bulu berwarna putih, persis Putih. Aku pun memanggilnya Putih. Apa kau tahu, Iwanuwuwu? Belang merasa gembira. Atau kurasa dia merasa gembira. Dia kembali bermain dan berlari, berebutan makanan, melompati pagar, atau masuk ke dalam rumah. Dia sudah tak kelihatan kehilangan sama sekali.

Mungkin kau bertanya-tanya, mengapa aku menceritakan ini padamu. Aku hanya tidak ingin kau melupakanku, Iwanuwuwu. Meski sekejab mata, jangan berpikir untuk melupakanku. Karena bisa jadi, sekali saja kau melepaskanku, selamanya aku tak akan ada lagi di hatimu.

Jarak akan selalu tergelak melihat rindu tergeletak tak bergerak. Sepi akan selalu mengelilingi, tetapi jangan menoleh kanan dan kiri. Karena yang setia akan kalah dengan yang selalu ada. Dan aku, tak pernah ada di dekatmu.

Dari waktu yang selalu kau minta kedatangannya

Untuk diikutsertakan dalam project 30HariMenulisSuratCinta dari @PosCinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s