Desir Melodi di Hamparan Ilalang

Diam, diamlah sejenak di kepalaku.
Akan kubisikkan serupa mantera,
agar yang kau anggap fana itu menetap nirkala
dan tak berjarak.

Kita terlanjur menebas ilalang
agar yang terseok dapat terus melaju.
Di ujung jalan, jejak-jejak sepi telah menepi.

Ada yang tanggal, ada yang tinggal.
Di antara rumputan tumbuh di tanah lempung, gemerisik lantas hening.
Seperti itulah rinduku, ia tak benar-benar bisa bersembunyi.

Mungkin kita ibarat lengan-lengan petani di tengah ladang; membuang banyak sunyi untuk menanam mimpi.
Jangan tebas benih itu, biar ia menjelma nyanyian baru; di ingatanku pun kamu.

Menyeruak melawan arah angin,
kepak dua sayap tak juga lelah; rinduku merpati yang tak ingin tandas menuju pulau kecil hatimu.
Biarkan gelap, biar tak terlihat.
Terombang-ambing di samudera takkan membuat tersesat.
Kerlap kerlip lampu mercusuar ibarat matamu yang berkedip; menuntun debar jantungku menyatu dengan detak di nadimu.

Mengendap di kepala, meriap di dalam dada;
tak lagi gundah, karena telah kuizinkan kau tinggal betah
dan segala resah itu tak ada.
Lalu dengarkan saja melodi desir angin di ingatan.
Irama jiwa dari hati yang kita selami,
hingga ia berhenti bernyanyi, nanti.

Pangkalpinang-Jakarta
21 Januari 2014
Kolaborasi bersama Diki Umbara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s