Kelindan Ingatan di Musim Angin

Pucuk-pucuk daun bambu tersibak angin,
gelak riuh bersahutan.
Ceracap burung melompat dari ranting ke ranting,
kepaknya menjelma irama; mengajak senyuman berdansa

Biru langit dan putih awan saling silang,
menyilakan cahaya matahari jatuh ke bumi; agar kehangatan tak lambat didendangkan.
Sebuah jendela terbuka tak sengaja, sepasang mata mengerjab;
secarik mimpi bergelantungan di kelopak, tak hendak sirna.

Ada yang mengapung lepas tak bisa terkepung,
lindap debar dari pusat jantung.

Menari-nari ingatan tentang pias wajah bulan di tengah malam, ketika hujan diturunkan dan doaku menggigil kedinginan;
Kau, meringkuk di sudut kenang.

Usia pertemuan belum terlalu uzur, bayangan tak beda dari nyata yang sama muskil
dilupakan.
Nyatanya, harapan kadang tersilap.
Yang hendak terlekap tak juga sampai meski letih terus meronta dicengkeram angan.

Pangkalpinang-Jakarta
27 Januari 2014
Kolaborasi bersama Diki Umbara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s