Mari Berdandan, Tuan

Jalan terbelah, sebagian terendam tenggelam.
Ratap pilu bak air bah.
Kemana tawamu saat kau keruk perut bumi lalu kau tinggal bagai limbah?

Lautku tak lagi biru, mengeruh tanpa sempat mengeluh.
Sedang kau bersejajar, mengatur barisan dan lahan agar tak ada celah.
Tanpa lengah.

Dan ketika langit murka, meruntuhkan luka yang telah lama tergores,
resapan itu telah menghilang.
Berganti pasir putih di lubang menganga.

Masih banyak waktu untuk berdandan, tuan.
Ini bukan masalah legal dan ilegal,
tapi bagaimana pertanggungjawaban kita kepada Sang Maha,
kepada bumi,
kepada anak cucu kita.

Sebelum Dia murka
dan menelan segala.

Pangkalpinang, 13 Januari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s