fenomena Delay

Memejam. Memeram.
Terantuk. Terkantuk.

Seorang bocah menangis menderu.
Mungkin bosan. Mungkin suntuk. Mungkin kesal. Mungkin menyesal.
“Harusnya tak usah ikut nenek dan kakek tadi,” pikirnya. Mungkin. Sekali lagi, itu hanya ‘mungkin’.

Beberapa mulai menggerutu.
Mempermasalahkan jarak
Mempermasalahkan waktu yang memburu
Mempermasalahkan hujan
Mempermasalahkan dingin yang kelewatan
–kalau ini aku

Beberapa tampak bergosip.
Tentang Mandela
Tentang kenaikan harga
Tentang UMK Jakarta
Tentang buruh
Tentang gebetan dan pacar tetangga
Tentang si anu yang baru beli kulkas baru atau si una yang suka menggoda tukang jamu

Beberapa sibuk membaca koran
–sambil sibuk memperhatikan rok panjang berbelah sampai paha mondar mandir setiap lima atau sepuluh menit sekali.

Dan aku kembali mengetik.
Lalu memejam. Memeram.
Terantuk. Terkantuk.

Jakarta, 8 Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s