Ibu Mengurai Benang Kusut Masa Lalu Ayahku

Semalam aku melihat ibu mengurai benang kusut masa lalu ayahku.
Lebam di pipi kiri dan kening tak menyurutkan senyuman lengkung pelangi bibirnya.
Keringat dan anak sungai yang mengalir dari mata ditelannya sendiri.
 
Aku termenung.
Menatap sehelai baju lusuh penuh tambalan.
Sebelum bersahabat dengan jeruji besi, ayah sering termenung dengan baju itu.
Dilukiskannya banyak kisah dari darah dan air mata.
Dengan banyak gadis di masa lalu.
Dengan teriakan orang satu kampung karena mencuri nasi aking.
Dengan lelehan sungai mata ibu.
Dengan ribuan balu dan maaf yang menggebu.
 
Ibu berdendang.
Ditepuknya pantat adik penuh kasih.
Didongengkannya segala cerita agar kami tak melupakan rasa kenyang dan bahagia.
Tak lupa dibisikkannya sebuah mantra sebelum semua terlelap.
“Tidurlah nak, besok ayah pulang bawa roti dan susu.”
 
Lalu ibu kembali mengurai benang kusut masa lalu ayahku.
 
 
 
Pangkalpinang, 4 Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s