Segumpal Cemas di Pojok Stasiun

Payung di sudut rumah menghitam.
Cemas kembali menggumpal di periuk-periuk berdebu milik ibu.
Kami menelan keringat yang kutampung seharian sebagai makan malam, atau makan siang, atau sarapan. Apapun itu.

Ayah dan langit berpandangan, ibarat sepasang kekasih yang saling merindukan.
Lalu pelukan ibu menghancurkan angan.

Dalam istana kardus di pojok stasiun ibukota, aku mendongeng tentang negeri boneka sambil menghibur perut adik-adikku yang sudah tak lagi berbentuk perut.
Sementara ayah sibuk membetulkan letak kacamata ibu yang gagangnya hilang satu dengan kakinya yang juga tinggal satu.

Hari ini, hujan tak turun lagi.

Pangkalpinang, 6 November 2013

2 thoughts on “Segumpal Cemas di Pojok Stasiun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s