Jejak-jejak Sesal

Malam, dan bayang-bayang keras kepala. Jam yang menolak dihitung dengan pusaran, akhirnya menyerah. Sementara rindu, kubiarkan berguguran menjadi malam dan pagi yang bersekutu memampang sosokmu.

Aku hanyalah pengelana usang yang menolak tergelak dalam luka. Jejak-jejak sepi yang tercatat pada ruang-ruang kosong di kepala, kutinggalkan begitu saja. Lalu kenangan meluruh satu-satu.

Diam-diam aku memujamu dengan dupa dan sesaji. Demi kenang yang kusimpan pada matahati, engkau tetaplah belati; pelengkap tulang rusuk kiri. Barangkali aku mati, mencari remah kenang yang tak semuanya basi.

Sesekali aku merasa terjebak dalam kelindan imaji, hitam putih yang kupatri kadang memerah darah, tapi tak jarang kelabu atau gulita. Ribuan jarum menjelma tetes hujan yang meneriakkan namamu, menusuk hingga ke nadi dan jantungku.

Bila rindu selalu merupa cemas yang merobek harap terkemas rapi di dalam mimpi,
Maka biarkan aku sesekali berkunjung ke kotamu. Meniti jalan di dalam sepi biar waktu tak hilang lagi.
Agar detik yang enggan kuputar ulang tak terus menerus kusesali

Jakarta-Pangkalpinang, 29 Oktober 2013
Puisi kolaborasi bersama @masSugie_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s