Pendar Hati Sang Jelita

Aku menemukan awan merupa gula-gula kapas pada matamu yang menjingga. Secangkir rindu yang bermuara tak lagi menganak sungai.

Seketika, pilu samar dalam lumat paling cinta. Telaga tak berwarna kini memunggungi kemarau. Pada sudut hati yang lembab, gelak mulai menjamur. Lekuk sempurna jemarimu sudah berani berkisah; tentang sepotong senyum, yang melukis gincu paling senja–di pipiku.

Di halaman, sebuah siluet menjelma kupu-kupu, mengitari rimba bunga tertutup salju. Sinar mentari mengintip dari balik semak, berpendar merupa kunang-kunang di tengah belukar mawar. Musim semi telah tiba, bisiknya.

Perlahan, putri malu mendongak. Hutan sunyi meranggas, warna warni sekar berlenggak-lenggok menguarkan aroma hujan.

Malam menyapa, bayang wajah mengatap di antara redup lampu kamar. Kelebat lengkung surga merah delima menari tak henti-henti. Memabukkan sepasang mata hingga enggan terpejam.

Tidurlah, jelita. Ada yang menunggumu saat kelopak membuka esok hari. Ketika fajar dan embun menggubah detak jadi melodi. Dan senandungnya mengiringi kita mengikat janji; melabuhkan hati di altar suci.

Bintaro – Pangkalpinang, 31 Oktober 2013
Kolaborasi bersama @putriginar

2 thoughts on “Pendar Hati Sang Jelita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s