Moksa Terselingkup Kabut Dermaga

Akan kujadikan diriku lebih dekat dengan matamu saat juru penyelamat mematikan matahari.
Gelap ini; lengan-lengan patah yang merangkul bayangannya sendiri.

Selingkup kabut menutup pandangan; terang tak lagi terbaca, haluan terombang-ambing cemas yang muncul tak terduga.
Di kecut udara, kematian tak mampu menyentuh. Tapi kita memilih percaya pada tiang-tiang dijaga waktu, melebihi rahasia pada takdirnya.

Kau ingin melepas resah terhimpun tak sengaja, tapi geligi di dada kiri lebih nyeri;
menikamhancurkan segala ingin, meluluhlantakkan seluruh mimpi.
Dan hanya ditabuh langit; kesedihan lindap, desir angin mengisi percakapan kosong pada tangan-tangan waktu yang patah.

Mungkin ribuan depa jarak membuat rindu menua dan ringkih; pelaut tak lagi ingin berlabuh pada dermaga lapuk termakan usia.
Aku menempa hikmah dalam memar di wujud asing, di sela jangkar dan segala yang sempat dipertemukan laut.

Kulempar ingatan pada teluk paling kelam, segala yang pernah kita ziarahi akan dimakamkan kembali.
Lalu kita akan tenggelam lagi; sibuk membereskan apa saja sambil terus saling memunggungi.

 

Pangkalpinang – Asahan, 21 Oktober 2013
Dari toples @9ulamerah
Kolaborasi bersama @ElvaDerlina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s