Kisah Hujan di Tepi Jendela

Rindu yang tak mampu kita tepis, kekasih, adalah kisah yang tak habis ditulis;
bergetar di dada dan patah di halaman pertama
Cinta yang tak bisa disingkirkan, ialah rasa yang pernah kita sangkarkan.
Seperti seekor burung bernyanyi, melagukan tentang sepi dan kehilangan.

Entah lengan siapa yang sedang memelukku
gigilnya membuat ngilu,
pedihnya tak bisa kupahami; nyeri atau sunyi?
Mungkin rahasia langit dijatuhkan padaku,
pada pias wajah dara disisir curah hujan
dan punah cahaya di lekung mata.

Tiba-tiba maut turun, berikan jawaban
Air mata ruam langit jatuh,
dan sepasang mata terpukau oleh cerita yang ia teteskan,
jauh sebelum kematian menyelimuti dingin malam

Di bawah payung, aku belajar mengingat jalan pulang.
Membaca jejak kehilangan yang lupa dihapus hujan.
Ada yang lebih sakit dari patah hati, katamu
Pada sebuah pagi, nyeri menjelma setangkai tulip di tepi jendela.
Barangkali, sepi adalah satu-satunya yang abadi.

Cinta mengetuk jauh ke dalam hati
Namun ia menemukanmu;
sedang membuat labirin untuk menyesatkan diri sendiri

Pergilah, kekasih.
Sebab kereta tak akan menunggu ciuman kita yang tak ingin terhenti.
Cerita tentang nyeri tersisip sebentar di tepi jendela, bawalah turut serta.
Sebab, sekali lagi, hujan pasti akan turun untuk melapukkan tapak kaki;
kepergianmu.

 

22 Oktober 2013
Dari toples @9ulamerah
Kolaborasi bersama seluruh penghuni toples
-1 toples 9 rasa-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s