Hujan yang Tumpah di Telaga Angsa

Sehimpun renyah senyummu kekasih;
tak akan kutukar dengan seribu gelas pelepas dahaga
Sepasang sayap terendam di telaga, menunggu secarik senja;
rindu yang ia titipkan pada seorang pengelana

Terserak di hamparan langit, bulir-bulir mengalur; jingga berkelebatan
Merunduklah, padi telah menguning, tak elok mendongak pada mentari;
biar petani memanen benih yang dulu kita semai sepenuh hati

Sebilah daun padi meliuk melekap bakal butir;
berharap agar kelak padanya keabadian diturunkan
Di tepi telaga seekor angsa mengerjap,
air memercik membasahi ingatan;
ada yang terjaga di kepala

Kini penat itu tak ada;
air mengalir,
angin menjaga burung-burung,
kita yang tenang melintasi padang lapang

Lukislah mimpi pada awan,
biarkan hilir mudik bintang dan kunang-kunang;
keindahan takkan berakhir meski cakrawala telah menghilang
Hujan tumpah, kita bergeming tak berlindung;
basah ialah cara kita menyambut kebahagiaan

 

Pangkalpinang – Jakarta, 17 Oktober 2013

Puisi kolaborasi bersama @dikiumbara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s