Mimpi Bulan Purnama

Aku berlari sekuat tenaga. Sesekali tersandung oleh kaki kecilku yang tak terhitung jumlahnya. Nafasku memburu. Dadaku berdegup kencang, membayangkan pemandangan apa yang akan aku dapatkan nanti. Lapangan pengaduan masih satu kilometer lagi. Daun-daun kering tampak berjatuhan. Mungkin karena sudah beberapa minggu ini aku jarang minum, sehingga proses fotosintesis tidak berjalan dengan sempurna.

Badanku mulai gemetar, mataku berkunang-kunang. Bukan karena lelah berlari atau kehilangan lagi kandungan air yang sedikit itu dari dalam tubuhku. Aku takut! Terlambat sebentar saja, maka semuanya akan jadi mimpi buruk seumur hidupku. Aku tak akan mungkin sanggup untuk melanjutkan hidupku. Persetan dengan semua aturan yang telah dibuat oleh para pemuka adat yang menyebalkan itu! Bukankah kita semua memang sudah sejak awal berbeda? Jadi, mengapa harus dipermasalahkan lagi? Bahkan semangka dan melon saja bisa menikah, mengapa aku tidak?

Matahari sudah berada di atas kepala. Aku semakin cepat berlari. Nafasku mulai sesak. Lapangan pengaduan tinggal beberapa meter lagi. Telingaku menangkap suara riuh yang kali ini terdengar sangat menjengkelkan. Dan menakutkan. Suara tawa, teriakan, dan beberapa tembakan,

Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru lapangan. Beberapa hewan yang berkelompok – sepertinya sedang membicarakanku – menatapku sambil cekikikan. Sebagian lagi memandang dengan sinis.

Tiba-tiba ada yang menyentuh rantingku
dari belakang, dari gerakannya aku tahu kalau itu ibu. “Sudah selesai, nak. Semuanya sudah selesai,” katanya pelan.

Aku gemetar. Nafasku sesak. Dengan sekuat tenaga aku berlari ke tengah lapangan. Terlambat! Kulihat kekasihku, Pram, sudah menggelepar dengan tubuh tak lagi utuh. Sekali lagi, aku gemetar. Lalu semua gelap.

******************

Pram membaca buku itu sekali lagi. Dia benar-benar takjub dengan imajinasi sahabatnya. Cerita yang ditulisnya kali ini benar-benar tidak masuk akal. Absurd! Tidak mungkin ada manusia yang jatuh cinta dengan sebuah pohon, kan?

“Lagipula, kenapa harus namaku yang dipakainya sebagai tokoh manusia? Rian harus membayar royalti khusus untuk itu!” katanya menggumam.

Pram memejamkan matanya. Tertidur. Pulas. Lalu dia bermimpi sedang bercinta dengan sebuah pohon cermai di suatu tempat yang entah.

Sementara di luar, bulan purnama membulat sempurna. Memancarkan aura magis. Menarik ruh seorang pemuda yang sedang tertidur pulas ke sebuah tempat yang entah. Sedangkan tubuhnya membias, menghilang pelan-pelan tanpa bekas.

*****END*****

340 kata

Pangkalpinang, 7 Oktober 2013

4 thoughts on “Mimpi Bulan Purnama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s