Sepasang Sepatu Tua

Maria menyeret kakinya pelan. Matanya sayu, memandang kerikil yang bertebaran di jalanan. Tak dihiraukan sapaan dari beberapa teman dan tetangga yang kebetulan berpapasan. Sesekali dihembuskan nafasnya kuat-kuat, seolah ingin melepas beban yang selama ini telah menghimpit dada.
 
“Sudah waktunya, Maria.” Ucapan ibunya satu jam yang lalu masih terngiang di telinga. Rasanya sia-sia saja. Beban yang hendak dibuangnya sepanjang jalan tak berkurang sedikitpun. Dia berhenti di pos ronda. Seperti biasa, Maria hanya duduk melamun sambil menatap orang-orang yang lalu lalang.
 
Sebenarnya, enam tahun bukan waktu yang sebentar. Maria juga tahu itu. Tapi kenangan yang telah dirangkai dengan nyaris sempurna itu akan direnggut dengan paksa. Terlalu banyak cerita dan rencana di dalamnya. Ada banyak buku yang belum ditulis. Ada banyak kanvas kosong yang belum dilukis. Tentang mimpi, cita-cita, fajar dan senja, atau tentang apa saja. Lagi-lagi Maria menghembuskan nafas panjang. “Ah, ini bisa membuatku gila!”
 
 
*********
 
“Jadi bagaimana?” Bastian menatap Maria yang masih membisu. Sudah satu jam dia menunggu jawaban yang tak juga keluar dari bibir mungil itu. “Itu permintaan ibumu, aku hanya mengingatkan,” katanya sambil memainkan kunci motor. Waktu menunjuk angka sebelas, dan mereka masih jalan di tempat. “Entahlah,” kata Maria kesekian kalinya. Dia berjalan mondar mandir. Sesekali menoleh ke arah Bastian yang mulai terlihat bosan. Hingga akhirnya dia menghela nafas panjang lalu merebahkan diri di depan TV. “Mariaaaaa…….”
 
 
*********
 
 
“Cepatlah Maria! Kita harus bergegas!” Bastian mengambil tas ransel di lantai dan memakaikannya ke punggung Maria dengan cepat. “Kata Vanessa kamarmu berantakan. Semua barang berhamburan! Tapi mereka tidak tahu apa ada barang yang hilang atau tidak.”
“Kamar siapa saja yang kemalingan, Tian?” tanya tante Lia, ibu Maria. “Entahlah. Saya juga tidak tahu tante. Vanessa hanya bilang kalau kamar kos Maria kemalingan.”
“Nanti saya telepon bu,” kata Maria sambil bergegas. “Dan saya tidak akan membuang sepatu ayah! Jadi berhenti menyuruh saya untuk menyingkirkannya!” kata Maria sambil mencium kening ibunya lalu menghilang bersama Bastian.
 
 
*********
 
 
Vanessa terlihat mondar mandir di depan kamarnya. Tampaknya dia termasuk dalam daftar korban kejahilan maling semalam. Pondok Kos Bunga memang selalu sepi setiap malam minggu, karena hampir semua penghuni memilih untuk menginap di luar. Entah itu pulang kampung, menginap di tempat saudara atau teman, atau kepentingan lain yang mengharuskan mereka untuk tidak pulang ke kos. Itu memang sudah menjadi tradisi, semacam aturan tidak tertulis bagi penghuni kos.
 
Maria mendapati kamarnya sudah terbuka. Maling itu benar-benar sukses mengacak-acak kamar. Barang-barang berhamburan kemana-mana. Brangkas mini yang disimpannya di lemari sudah tergeletak di tempat tidur dalam keadaan terbuka. Dan kosong!
“Astaga! Berantakan semua! Ada yang hilang tidak? Coba periksa!” Bastian mengangkat brangkas sambil berdecak. “Apa brangkas ini pernah ada isinya?” Maria hanya mengangkat bahu.
“Ya ampun, sepatu ayah!” Seketika dia melongok ke dalam lemari pakaian yang memang sudah terbuka. Maria tersenyum lega. Sepasang sepatu tua milik almarhum ayahnya masih bertengger cantik di tempatnya. Mungkin sang maling sama sekali tidak tertarik dengan sepatu yang sudah dekil itu. Bagi Maria, sepatu itu adalah segalanya. Dan dia tidak akan pernah membuangnya, seperti keinginan ibunya. Diambil dan dipandanginya sepatu peninggalan ayahnya itu, diusap, lalu dirogohkan tangannya ke dalamnya.
“Tidak ada yang hilang, Tian. Tidak ada yang hilang.” Maria memandangi Bastian sambil tersenyum.
 
Seketika, suara ibunya satu minggu yang lalu bergema di telinganya. “Kapan kau akan membuang sepatu itu? Tak ada orang yang menyimpan uang dan perhiasan di dalam sepatu, Maria!”
 
 
 
 
Pangkalpinang, 16 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s