Setangkup Gelisah Anak Adam

Bulat penuh di sepertiga senjakala yang rapuh; menelusup lewat jendela. Seorang gadis sedang berdoa.
Menyingkap tabir dalam dada, pada pintu setengah terbuka.
Menelusur dalam hati; sinar yang nyaris sirna.

Tilam sujud lusuh, tak ada lagi basah airmata yang jatuh.
Gelisah meluruh, deraunya pelan mereda, melepaskan kelindan di kepala.

Langit pecah, gerimis berdenting menjatuhkan diri.
Bertelimpuh ia, nampaknya ceracap ada yang mendengar, kini nirkata menyisa debar.
Sunyi menari-nari, detik jam bernyanyi.
Kelebat tanya serupa godam di kepala; imankah ini?

Segala khilaf dan alpa melambaikan tangannya, peluh jatuh mencerebut masa lalu. Kepada sang Maha Ketakberhinggaan ia bentangkan segala kegelisahan.
Merah jingga menghilang di cakrawala, resah timbul tenggelam dipermainkan bilur dosa di ingatan. Setitik cahaya mengingatkan, menujuNya tak hanya satu jalan.

Muasal ia dari limbung tercerat waktu lantas menjauh, dengan segala daya kini jarak itu tak ada.
Telungkup tangan basahi hati, berharap di akhir; senyuman sang Maha Tinggi.

Jakarta-Pangkalpinang, 30 Juli 2013
Puisi kolaborasi bersama @dikiumbara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s