Kita Lebah yang Setia di Taman Hujan

Di kotaku langit berkaca-kaca, ada yang hendak ia jatuhkan.
Sementara rindu menengadahkan tangan, berdoa;
memohon pada ibu waktu agar kenangan dikembalikan.

Tetes demi tetes airmata ruam langit jatuh,
hujannya seperti dulu di rembang kenang yang pernah menggenang.
Langkah kakiku tertahan, sebongkah ragu membatu di tengah genangan,
mengingatkan; haruskah kita memutarbalik arah jarum jam?

Tengok sebentar lantas lupakan; kenangan seringkali menjebak dengan
janji kebahagiaan.
Padahal kesetiaan tidak pernah mundur kebelakang.
Kadang kita saja yang tak menyadari;
musim semi tak pernah datang terlambat, wangi tulip dan kupu-kupu yang
enggan kita lihat.

Kau lebah yang limbung di lapang padang taman,
aku menatapmu dari rimbun belukar di seberang.

Sudahlah, lupakan. Mengapa kita tidak menghias taman dan melukis awan?
Meminang ingin pada ayah dan ibu mimpi, sambil merencanakan masa depan.

 

 

Jakarta – Pangkalpinang, 22 Juli 2013
Puisi kolaborasi bersama @dikiumbara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s