Bapak Kemana, Mak?

Jemariku masih menari di atas keyboard. Pekerjaan sebagai sekretaris desa benar-benar menyita waktu. Tadi saja baru pulang jam delapan. Emak sedang menyiapkan makan malam. Terlalu malam sepertinya. Ini sudah pukul sembilan. Aku menelusuri ingatan beberapa hari yang lalu, ketika emak menangis diam-diam di tempat tidur sambil pura-pura menghapus riasan di wajahnya. Entah apalagi yang membuatnya meluruhkan air mata. Sementara bapak hanya diam saja, menghisap rokok kretek sambil memandang keluar jendela.

“Makan dulu, Ti..” katanya sambil menghidupkan televisi. “Bapakmu bilang, nanti dia mau ikut puasa.”

“Reti kok ndak yakin ya mak..” kubiarkan saja laptop butut yang sudah ketinggalan jaman itu terbuka. Kalau tabunganku sudah cukup, akan kuganti dengan yang baru saja. Berat sekali membawanya.

“Mudah-mudahan kali ini bapakmu sungguh-sungguh Ti.”

Aku makan dengan lahap. Makanan buatan emak selalu enak. Bapak sering bilang kalau emak adalah koki nomor satu di rumah ini. Kukira itu hanya untuk mengejekku saja. Aku tidak bisa memasak. Entah kenapa semua makanan yang ku masak tidak ada yang enak. Mungkin memang tidak berbakat memasak.

“Emak sudah melingkari almanak?” tanyaku geli. Susunan angka pada lembaran kertas yang digantung di dinding itu sudah dicorat-coret. Ternyata tiga hari lagi sudah puasa. Ada catatan kecil disana. “bapak mau makan sahur pake ayam”. Aku tertawa geli.

“Tapi bapak kemana mak? Kok tumben belum pulang jam segini?”

Emak menoleh. Gelisah. Aku jadi menyesal bertanya. Tapi jam tua peninggalan eyang sudah berdentang sebelas kali. Biasanya jam segini bapak sudah duduk di beranda, menghisap rokok kretek dan minum kopi sambil mengisi tts di surat kabar lokal.

Menunggu bapak, kami menonton sinetron di televisi. Ceritanya membosankan. Tapi tak ada acara lain yang menarik. Detik demi detik terasa berjalan lebih lambat. Cicak sudah menyanyikan lagu nina bobo sejak tadi. Jariku mulai lelah menari.

Emak baru saja mematikan televisi ketika pintu depan diketuk dengan tidak sabar. Sudah jam satu. Dari matanya, aku tahu emak berharap bapaklah yang datang.

“Aku saja yang buka, mak.” Emak hanya diam. Wajahnya terlihat tua di usianya yang baru lima puluh dua tahun. Ah, dia sudah terlalu lelah.

TOK TOK TOK TOK TOK TOK!!

Suara ketukan di pintu semakin tidak sabar, sama tidak sabarnya dengan tatapan ingin tahu emak yang masih tetap diam di depan televisi. Pak lurah muncul dari balik pintu. “Kami menemukan bapakmu,” katanya. “di kolong jembatan, dekat semak-semak di pinggir sungai.” Lanjutnya lagi. Setelah itu dia pergi. Mang Dulah, hansip kampung yang lebih sering ketiduran di usianya yang senja itu mengikuti dengan tergopoh-gopoh.

“Bapak mati, mak..” kataku sambil memandangi emak yang mulai meneteskan air mata. Lagi-lagi embun datang terlalu dini dari mata senjanya yang tertutup kabut. “Sudahlah mak, jangan menangis terus. Kasihan bapak..” Kupeluk tubuh ringkihnya yang terus berguncang.

******

Matahari sudah mulai menggelincir ke arah barat. Senja terlihat muncul malu-malu. Rumahku mulai sepi. Bapak sudah dikuburkan di pemakaman umum yang ada di ujung kampung jam sepuluh tadi. Emak masih mengurung diri di kamar. Ada uwak yang menemaninya meratapi nasib setelah ditinggal bapak. Kadang ada satu dua tamu yang bertandang, sekedar melihat keadaan emak sambil mengucapkan belasungkawa dan menyelipkan sepuluh atau dua puluh ribu rupiah ketika bersalaman.

Perlahan, kusingkap tirai di ruang tamu. Ramadhan kali ini, aku hanya berdua saja dengan emak. Tidak ada lagi yang akan membangunkanku untuk makan sahur seperti tahun-tahun yang lalu. Pandanganku menerawang, menjelajahi kotak ingatan yang sengaja kulipat-lipat semalam. Ketika aku mendorong bapak dari jembatan. Ketika dia menolak janin dua bulan yang dia tanam: di rahimku! Jahanam!

“Cerpen ini masuk sebagai finalis 17 cerpen terbaik ‘Kejutan Sebelum Ramadhan’ yang diadakan oleh @nulisbuku dan akan dibukukan bersama finalis lainnya.”

Pangkalpinang, Juli 2013

2 thoughts on “Bapak Kemana, Mak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s