Aku dan Secangkir Kopi

Setiap lekuk ukirannya bahkan sudah kuhapal di luar kepala. Entah sejak kapan, akupun tak ingat. Awalnya aku tak suka padanya. Tetapi karena Anton memecahkan cangkir kopi satu-satunya di kamar ini, akhirnya dia dibeli sebagai pengganti. Cih! Cangkir kopi yang lama jauh lebih bagus dan cantik. Tapi aku tak bisa protes. Anton tak pernah mendengar perkataanku. Dia lebih suka berlama-lama di depan komputer atau setumpuk buku-buku tebal. Kadang-kadang dia bermain-main dengan burung nuri kesayangannya. Selebihnya dihabiskan di kampus atau tempat kerja paruh waktu.

Kulihat lagi dia untuk kesekian kalinya. Dulu dia bersih sekali. Putih dan mengkilap. Sekarang dia sudah tampak kusam. Bekas kopi yang sudah mengering menambah jelek penampilannya sekarang. Seingatku, Anton hanya menggunakannya sekali. Sehari setelah membelinya di supermarket depan, Anton membuat kopi yang harum sekali. Setelah itu tidak ada lagi wangi kopi. Cangkir kopi itu saja tak pernah berkurang isinya. Dibiarkan begitu saja di atas meja setelah dibuat. Entah apa sebabnya. Anton tak pernah menjawab kalau kutanya. Sejak dulu selalu begitu. Aku dibiarkan saja dengan segudang pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Hanya sebagian kecil yang akhirnya aku ketahui, dan itupun bukan dari Anton.

Langit mulai gelap. Jam dinding peninggalan ibu Anton berdentang enam kali. Aku memandanginya lagi. Mungkin nasibnya sama saja denganku. Dulu Anton begitu menyukaiku. Tapi sekarang, aku dianggapnya tak pernah ada. Entah apa salahku. Dan aku mulai mengasihani diri sendiri, lagi dan lagi.

*****

Anton menyalakan lampu kamar. Presentasi tadi membuatnya lelah. Sambil menggeliat, Anton merebahkan tubuhnya di kasur. “Akhirnya sebentar lagi aku akan jadi sarjana,” pikirnya sambil tersenyum. Lalu pandangan matanya terhenti pada sebuah meja kecil yang ada di dekat jendela. “Ah, ya. Aku lupa.” Dihampirinya meja kecil itu sambil tersenyum. “Selamat tinggal teman. Aku sudah memulai semuanya dari awal. Tanpa kalian.” Lalu cangkir kopi dan asbak kecil yang ada di atas mejapun mendarat di tempat sampah.

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s