Namanya Maria

Aku melihatnya di taman setiap hari. Di bangku yang sama, di bawah pohon akasia yang dikelilingi bunga-bunga asoka. Perempuan dengan rambut sebahunya yang tertiup angin. Senyuman selalu menghiasi wajahnya yang tampak polos, meski kadang aku tak mengerti apa arti senyuman itu. Tatapannya lurus ke depan, ke arah perempatan jalan satu-satunya di komplek ini. Kadang matanya mengerjap jenaka, tapi tak jarang terlihat kosong. Aku tak pernah melihatnya bicara dengan siapapun. Dia selalu sendirian. Bila ada yang menyapa, dia hanya akan tersenyum atau melambai. Dia datang setiap hari, ketika jam besar dekat taman berdentang tiga kali, lalu pergi setelah senja meninabobokan matahari dengan sempurna bersama seorang anak laki-laki yang menjemputnya. Dan aku sudah melihatnya selama dua bulan terakhir, tepatnya ketika aku mulai tinggal di komplek ini. Entah dimana dia tinggal, aku sendiri tidak tahu. Yang kuketahui cuma satu. Namanya Maria.

***

Perempuan itu tersenyum bahagia. Kekasihnya yang ada di luar kota baru saja melamarnya. Dia akan datang malam ini bersama keluarganya. Semua teman-temannya mengucapkan selamat. Maklum, sudah tiga tahun mereka berpacaran. Meskipun setahun terakhir mereka menjalani pacaran jarak jauh karena kekasihnya itu ditugaskan keluar kota, sama sekali tidak membuat hubungan mereka menjadi renggang.

“Jangan tersenyum terus Maria, nanti bibirmu itu tidak bisa kembali seperti semula.” Goda ibunya sore itu.

“Ah, ibu bisa saja,” Maria tampak tersipu malu. “Leon bilang aku harus menunggunya disana,” katanya sambil menunjuk perempatan jalan yang ada di depan rumah. “Sebentar lagi mereka akan segera tiba.” Lanjutnya lagi sambil membawa buah-buahan yang sudah disiapkannya sejak tadi ke ruang tamu.

Belum juga Maria melangkahkan kakinya ke ruang tamu, adik laki-lakinya datang dengan tergesa. Wajahnya tampak pucat. Maria langsung pingsan setelah mendengar apa yang dikatakan adiknya.

Tidak ada pernikahan di rumah Maria. Mobil yang dikendarai kekasihnya mengalami kecelakaan tidak jauh dari gerbang komplek. Semua penumpang tewas seketika. “Aku akan menunggunya di perempatan,” kata Maria ketika sadar dari pingsannya. Setelah itu dia tidak pernah lagi bicara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s