Untukmu, Yang Telah Mendampingiku

Sayang, aku menuliskan surat ini ketika kau sedang terlelap. Melepaskan lelah dan penat yang kau rasa. Hingga kau terbangun dini hari nanti untuk memulai aktivitasmu mencari rezeki.

Sayang, aku hanya ingin berterima kasih padamu karena telah menyayangiku. Dengan segala kekurangan dan keterbatasanku. Dengan segala ketidaksempurnaanku. Aku bersyukur memiliki orang sepertimu. Kurasa kaupun tahu, bahwa kau bukan orang pertama yang masuk dalam hatiku. Aku telah terlalu banyak mengembara, tanpa ada niat tuk mengeratkan hati di satu sisi. Kau tahu, aku tak ingin terluka untuk kedua kali. Menempatkan hati untuk orang yang tak bisa kumiliki. Namun kau berhasil meyakinkanku bahwa kau akan terus menjaga, mencintai dan menyayangiku. Memupuk perasaan kita bersama, seiring waktu berlalu dalam satu ikatan cinta. Dan kau benar, aku memang telah menyayangimu, amat sangat menyayangimu, seperti yang dulu kau katakan padaku.

Sayang, kadang aku merasa sifat kita yang berbeda membuatku jengah. Aku sangat suka melakukan aktivitas apapun di luar rumah. Aku juga suka tantangan dan berkenalan dengan hal-hal baru. Sedangkan kau, begitu menyukai kesendirianmu. Kau lebih senang duduk diam di rumah sambil menikmati berita di televisi. Kau juga pendiam dan tak banyak bicara. Terlalu cuek! Sifat dan cara kita menikmati hidup sangat berbeda. Kau juga bukan orang romantis yang suka memberikan bunga dan hadiah, bukan pula pujangga yang suka bermain kata-kata. Bahkan kau tak bisa memainkan gitar, alat musik yang kusuka. Benar-benar bukan tipe lelaki idamanku! Mungkin cintalah yang sudah menyatukan kita, hingga semua itu menjadi terabaikan.

Sayang, lihatlah bocah kecil yang terbaring pulas di sampingmu. Dia tampak manis dan lugu bukan? Dia pelengkap kebahagiaan kita. Aku akan menjadi sahabat terbaik untukmu dan untuknya. Memberikan setiap senyuman, kasih sayang dan kekuatan yang kupunya agar kita terus bersama. Yakinlah, apapun yang kulakukan, semua adalah untuk kebaikan kita bersama.

Sayang, kuharap ikatan kita adalah selamanya. Meski pertengkaran-pertengkaran sering mewarnai jalan yang kita lewati, kuharap itu tak akan merubah kuatnya perasaan yang sudah terjalin. Aku juga berharap kau akan terus menyayangiku seperti janjimu dulu, hingga takdir Tuhan memisahkan kita nanti. Itu harapanmu juga kan?

 

 

…. aku, yang akan selalu menemani perjalanan hidupmu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s