fatamorgana

Entah apa yang sedang dipikirkan Tini. Dia selalu termenung di sudut perpustakaan. Buku yang dibacanya tak pernah berpindah halaman. Saat kutanya penyebabnya, dia hanya tersenyum, lalu pergi. Sudah setahun kami berpacaran, dan dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan dia tak pernah lagi membalas tatapan mataku. Pandangannya selalu kosong. Kalau dia sudah tak cinta, kurasa itu tak mungkin. Pita biru yang kubelikan masih dipakainya setiap hari. Fotoku juga masih tersenyum manis di dompetnya. Dia juga masih sering datang ke rumahku, walau hanya sekedar mengantarkan kue kesukaan ibuku. Bahkan, topi kesayangankupun tak pernah lepas dari kepalanya. Aneh, mengapa aku tak ingat pernah memberikan topi itu padanya? Ah, mungkin aku lupa.

Hari ini Tini tampak cantik dengan gaun biru mudanya. Yah, dia memang selalu cantik. Setiap hari. Dia idola di fakultas ekonomi. Aku saja tak pernah bermimpi bisa mendapatkannya. Dulu aku iseng menembaknya, setelah Sigit, Aldi, Agung dan beberapa temanku ditolaknya dengan halus. Belum ingin pacaran katanya. Walaupun aku sangat menyukainya, aku tak berani berharap banyak. Toh semua temanku juga ditolak, akupun pasti akan ditolak. Siapa yang mengira kalau aku akan diterima? Dia bilang mau jadi pacarku! Rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Tentu saja karena aku sangat bahagia. “Nama kita mirip,” katanya sambil tersenyum. Alasan yang aneh, tapi yang penting aku bisa jadi pacarnya, aku sudah sangat bahagia. Beberapa bulan setelahnya aku baru tahu, dia memang menyukaiku sejak dulu. “Jangan tanya alasan,” katanya. “Cinta tak butuh alasan, biarkan ia mengalir dan kita merasakannya saja.” Lalu dia tersenyum.

Kulihat dia membagikan kertas ujian minggu lalu. Senyumannya tak pernah lepas dari bibirnya yang tipis. Kulihat huruf A tertera di kertas miliknya. Dia memang pintar. Nilainya selalu sempurna, paling tidak nilai C tak pernah mampir dalam kehidupannya sebagai mahasiswi. Tidak seperti aku, yang selalu dikelilingi oleh huruf C dan D. Seperti saat ini, ujianku mendapat nilai C. Tini menatap kertas itu, lama. Sepertinya dia melamun lagi. Hei, apa dia menangis? Ah, mungkin aku salah lihat. Dia tak pernah menangis. Setelah membereskan buku-buku di meja, dia menoleh ke arahku sebentar, lalu pergi.

Kukira pacarku yang cantik itu akan pergi ke perpustakaan lagi, untuk melamun, seperti seminggu terakhir. Tapi ternyata dia melangkahkan kakinya ke gerbang kampus. Pertanyaanku tak digubris sama sekali. “Aku baik-baik saja,” katanya, setengah berbisik. Di taksipun kami tetap diam. Dia tak mau kuajak bicara. Entah apa yang terjadi. Kalau memang dia punya masalah, harusnya katakan saja padaku. Bukankah biasanya selalu seperti itu? Akupun ikut melamun, mengamati jalanan yang tampak sepi.

Taksi berhenti di sebuah pemakaman umum. Sekali lagi aku bertanya, makam siapa yang akan kami kunjungi. Dan dia tetap diam. Akhirnya aku menyerah. Kuikuti saja langkahnya. Lalu kami berhenti di sebuah makam yang sepertinya masih baru, mungkin sekitar seminggu yang lalu. Tanahnya saja masih basah, dan belum di pasang keramik seperti makam-makam yang lain. “Maafkan aku,” katanya. “Aku tak sekuat yang kau pikirkan.” Lalu dia menangis. Tentu saja aku kaget. Dia tak pernah menangis sebelumnya. Tini yang kukenal adalah gadis yang kuat. Tapi bujukanku tak berhasil menghentikan tangisnya. “Tono, aku mencintaimu. Aku mencintaimu..” “Aku tahu,” bisikku. Tak tega melihat ia menangis. “Aku mencintaimu, Tono. Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini? Kenapa meninggalkanku sendiri?” Aku tertegun. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sayang. Tidak mungkin!! Tapi Tini seolah mengabaikanku. Aku hanya bisa terdiam. Akan kutanyakan lagi kalau dia sudah tenang. Kuperhatikan lagi makam itu. Aku masih tak tahu ini makam siapa. Tini sudah berhenti menangis. “Aku pulang dulu.” Katanya pelan. “Besok aku akan datang lagi.” Dan dia pergi tanpa menoleh lagi. Kusempatkan melihat nisan makam yang terbuat dari kayu itu. Tono Ardiansyah bin Agus Ringgol. Lahir tanggal 14 Maret 1989. Meninggal tanggal 04 Oktober 2010.

Aku menegang. Sebuah video langsung diputar di kepalaku. Malam minggu. Rumah Tini. Janji untuk menikah. Ujung jalan kompleks. Suara klakson. Lampu yang benderang. Sakit dan gelap … seminggu yang lalu. Lalu tubuhku pun mulai membias perlahan, dan hilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s