BUNDA

Termangu di bibir pintu rumah

Menatap jalanan yang tak pernah sepi

Menatap debu mengepul sepanjang hari

Kadang meneriaki anjing-anjing tetangga yang mulai membongkar sampah depan rumah

Atau bergosip di kerumunan penjual sayur di warung bang Mamat

 

Omelan yang bersaing dengan nyanyian pengamen yang mondar mandir sepanjang hari

Karena aku yang tak juga beranjak meski panggilan muadzin tlah lama berlalu

Atau adik yang selalu menumpahkan susu di kursi ruang tamu

Atau ayah yang tak mau mengganti siaran sepak bola dengan sinetron Cinta Fitri

 

Kadang nyanyiannya terdengar sangat merdu

Ketika kitab suci yang dibacanya dengan terbata-bata mulai dilantunkan

Di antara suara mesin cuci yang mulai bekerja, nasi yang baru saja ditanak, air yang belum mendidih dan suara mesin air yang menderu

 

Kadang aku sendiri yang termangu

Menatap wajah lelah yang terlelap sambil memeluk adik

Dengan jilbab yang lupa dilepas

Diiringi dengkuran ayah di kamar sebelah

 

Lalu cairan hangat dari mataku akan mengalir tiba-tiba

Mengingat sarapan yang tak pernah telat setiap pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s